| Ditulis Oleh Ifdil | |
| Sunday, 25 March 2012 | |
Hasil Kreasi Anak Bangsa sebuah Software Sistem Informasi dalam BK yang dibuat oleh Yanto Naim (http://software-bk.com/) yang didukung oleh KonselingIndonesia.
Software BK ini memiliki layanan : 1. Login/Logout 2. Tambah User 3. Backup Database 4. Restore Database 5. Aplikasi Tambahan 6. Setting 7. Formulir Data Siswa 8. Petunjuk Penggunaan Software 9. Entry Data Profil Sekolah 10. Entry Data Pribadi Siswa (Data Pribadi Siswa, Data Orang Tua / Wali, Data Saudara, Data Teman Akrab, Data Beasiswa, Data Jarak Ke sekolah, Media Internet) 11. Entry Pokok Masalah Siswa 12. Entry Sub Pokok Masalah Siswa 13. Entry Data Tugas Siswa dari Guru Mata Pelajaran 14. Entry Data point pelanggaran 15. Entry Masalah yang dilakukan siswa dan Laporannya 16. Entry Data Kunjungan Rumah dan Laporannya 17. Entry Data Cek Tugas Siswa dan Laporannya (Untuk menginput Data Tugas yang telah diselesaikan oleh siswa dan diberikan point penilaian) 18. Entry Data Intelegensi yang dimiliki siswa dan laporannya 19. Entry Data Ketidakhadiran Siswa dan laporan rekapitulasi ketidakhadiran (untuk menginput data siswa yang sering Ijin, alpa, sakit dan diberikan dispensasi kehadiran) 20. Entry Data Undangan/Panggilan siswa dan Kartu Panggilannya 21. Entry Data konsultasi siswa 22. Entry Data Alih Tangan / Peralihan penanganan masalah siswa 23. Entry Data Pelanggaran yang dilakukan siswa 24. Laporan Detail Pelanggaran, Konsultasi, Undangan/Panggilan dan Kunjungan Per siswa 25. Laporan Monitoring Ketidakhadiran Siswa (Detail Ketidakhadiran dan Rekapitulasi Ketidakhadiran) 26. Laporan Detail Siswa Per Tahun Pelajaran yang terdiri dari : - Laporan berdasarkan kelas - Laporan berdasarkan jurusan - Laporan berdasarkan asal sekolah - Laporan berdasarkan orang tua / wali - Laporan berdasarkan media facebook Export data siswa per tahun pelajaran berdasarkan kelas ke Microsoft excel 2003/2007 27. Import Data pribadi siswa dari Microsoft excel 2007 Software ini digunakan secara personal (Bukan Jaringan Client Server / Multi User) jadi anda tidak perlu report dalam pengaturan database dan pengadaan fasilitas lain yang membutuhkan anggaran yang cukup besar. Dapat anda gunakan di sekolah maupun di rumah (praktis). Jumlah komputer yang digunakan tidak dibatasi. Cocok untuk Sekolah SD, SMP, MTs, SMA, MA, SMK. Order secara Personal dikenakan biaya aktivasi sejumlah Rp.50.000,- Anda dapat melakukan order secara GROUP sejumlah 8 (Delapan) Pengguna dengan Biaya Rp. 200.000,- |
With Konseling mari kita kobarkan "Gerakan Anti GGaaallllaaau"..:D
Minggu, 29 April 2012
Download Software Sistem Informasi BK
"Wajah Pendidikan Kita" dan Mereka
Oleh:
Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI)
LIMA belas tahun lalu saya pernah
mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di
Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis
anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya
sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan
baru mulai belajar bahasa.
Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan
kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas.
Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya
memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.
Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”
“Dari Indonesia,” jawab saya.
Dia pun tersenyum.
BUDAYA MENGHUKUM
Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.
“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,” lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya.
“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.
Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.
Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.
Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.
Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.
Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.
Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.
***
Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.
Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.
Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.
Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.
Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.
Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”
Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.
Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.
MELAHIRKAN KEHEBATAN
Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya.
Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.
Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.
Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.
Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.
Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.
Mari kita instropeksi diri. Kalau di Dunia luar sana ( dunia nyata ) sudah begitu banyak tekanan yang bisa menghambat laju perkembangan otak kita, janganlah menambah tekanan itu di Dunia Elv-Army ini. Semoga semua yang memposting dan yang berkomentar punya visi dan semangat membangun, bukan saling menjatuhkan dan merasa benar sendiri, sehingga grup ini bisa menjadi wadah bagi pengungkapan pikiran yang belum tersampaikan di dunia luar sehingga ilmu - ilmu yang kita dapatkankan di Univ bisa lebih membumi karena adanya komunikasi yang baik. Walaupun tidak benar2 memproduksi ilmu yang baru seenggaknya kita tidak benar2 menjadi konsumen mutlak dari ilmu pengetahuan...
Penggunaan Metafora Sebagai Bentuk Kreativitas Dalam Konseling
Penggunaan Metafora Sebagai Bentuk Kreativitas Dalam Konseling
Oleh,
Ahmad Ali Rahmadian
Ahmad Ali Rahmadian
Metafora
pada umumnya didefinisikan sebagai transfer makna dari suatu elemen ke
elemen lain (Robert & Kelly, 2010). Metafora merupakan upaya untuk
mendeskripsikan suatu ide atau persoalan secara konkrit, sehingga lebih
mudah untuk dipahami. Proses konseling yang bertujuan memahami worldview
konseli, serta membantu konseli dalam memahami dan memecahkan masalah
konseli yang sesungguhnya, melibatkan banyak terminologi dan situasi
abstrak yang terkadang sulit untuk dipahami.
Penggunaan
metafora secara kreatif dalam sesi konseling akan membantu konseli dan
konselor untuk memahami persoalan yang dihadapi serta mengembangkan
solusi untuk mengatasi persoalan tersebut. Dengan demikian, metafora
bermanfaat dalam membantu klien untuk mengkonseptualisasikan
permasalahan yang konseli hadapi serta memfasilitasi kolaborasi
konselor-konseli dalam menentukan intervensi yang tepat (Robert &
Kelly, 2010). Penggunaan metafora dalam konseling juga berperan dalam
memfasilitasi dan membangun struktur komunikasi antara konselor-konseli,
serta secara signifikan dapat memfasilitasi perubahan perspektif
konseli ( Hundley & Casado-Kehoe, 2007; Babits, 2001; Chesley,
Gillett, Wagner, 2008). Terdapat beragam riset yang menunjukkan manfaat
metafora dalam meningkatkan efektivitas komunikasi dan penciptaan makna
dalam konseling (Lyddon, Clay, & Sparks, 2001).
Metafora merujuk pada penggunaan
bahasa kias (verbal dan nonverbal) secara Kreatif dalam
menyampaikan pikiran atau perasaan. Dalam konteks bimbingan dan
konseling, metapora dapat digunakan untuk mengilustrasikan isu-isu
interpersonal tertentu, membantu klien untuk mengenali dan memahami diri
dan lingkungan sekitarnya, serta membantu konseli untuk membingkai
ulang masalahnya. Apa yang dipahami konseli tentang dirinya merupakan
produk dari pencarian metapora yang tepat, yang memberikan makna dalam
kehidupan konseli. Kemampuan konselor dalam memahami metafora kehidupan
konseli akan membantu konselor untuk lebih cepat serta lebih utuh
dalam memahami dunia konseptual konseli. Melalui hubungan rapport dan
empati, konselor dapat mengembangkan intervensi terapetik yang
konsisten dengan kerangka pikir konseli. Metapora bermanfaat untuk
mamahami pengalaman konseli dengan cara yang tidak terlalu mengancam
bagi konseli (Babits, 2001; Shinebourne & Smith, 2010). Edwards
Jacobs (1992, 1994) menyatakan bahwa minat dan efektivitas proses
konseling dapat ditingkatkan apabila konseli terlibat aktif dalam
proses konseling. Efektivitas konseling juga akan meningkat apabila
konseling dilakukan secara multisensori yang mengandung makna bahwa
proses konseling bukan hanya melibatkan dimensi verbal, namun juga
melibatkan dimensi visual dan kinestetik, yang dapat bersifat metafora.
Ed Jacobs juga menekankan pentingnya penggunaan beragam property atau barang-barang secara kreatif sebagai metafora suatu ide atau masalah.
Sumber : Ahmad Ali Rahmadian. (2011). Kreativitas dalam Konseling. Paper presented at the International Seminar & Workshop Contemporary and Creative Caunseling.
mengatasi anak pemalu
salam hangat teman-teman sekalian. Pada kesempatan kali ni kami akan mengangkat tema tentang seorang anak yang pendiam dan bagimanakah cara membuat anak-anak pendiam tersebut bisa terus berkembang sesuai kebutuhannya.
Anak-anak akan selalu tumbuh berkembang.Untuk itu seharusnya anak-anak aktif dalam melakukan aktifitasnya. Tetapi disisi lain terdapat beberapa anak yang pemalu dan pendiam. Jika menemukan anak pemalu dan pendian seharusnya yang kita lakukan adalah memberikan :
1.perhatian
2.Motivasi
3.Pujian
1.Perhatian
Dengan memberikan perhatian kita akan membuat si anak merasa ada di lingkungannya berada.Seperti memberikan kesempatan dia untuk tampil ke depan kelas agar dia memperoleh kepercyaandiri saat berada di depan kelas dan di sana dia kemudian terpancing untuk mencoba kembali tampildi depan
2.Motivasi
Anak-anak akan selalu tumbuh berkembang.Untuk itu seharusnya anak-anak aktif dalam melakukan aktifitasnya. Tetapi disisi lain terdapat beberapa anak yang pemalu dan pendiam. Jika menemukan anak pemalu dan pendian seharusnya yang kita lakukan adalah memberikan :
1.perhatian
2.Motivasi
3.Pujian
1.Perhatian
Dengan memberikan perhatian kita akan membuat si anak merasa ada di lingkungannya berada.Seperti memberikan kesempatan dia untuk tampil ke depan kelas agar dia memperoleh kepercyaandiri saat berada di depan kelas dan di sana dia kemudian terpancing untuk mencoba kembali tampildi depan
2.Motivasi
Dengan memberikan motivasi maka kita akan memberikan suatu acuan atau dorongan agar diaterpacu untuk tampil dan berkreasi. Seperti memberikan suatu percontohan yang baik untukmelakukan suatu kegiatan dan tugas
3.Pujian
Tidak lupa memberikan suatu pujian saat dia telah berhasil melakukan suatu pekerjaan atau tugasyang dia kerjakan,karena dengan memberikan suatu pujian itu dapat memberikan suatu rasakepercayaan diri .Tetapi jangan terlalu berlebihan karena itu dapat membuat si anak merasaterlalu bisa melakukan segalanya dan akhirnya lupa akan posisi sebenarnya
Langganan:
Postingan (Atom)
